Aduh..tanya aku kepada jemy, jemy ini hari tanggal berapa, dengan nada pelan jemy menjawab tanggal 18 waktu itu tepatnya bulan desember tahun 2003, aku balik mengingatkan jemy bahwa jemy ingat tidak tiga hari kita sudah harus berangkat, ya maklum kemarin kan liburan bulan puasa saya dan jemy tidak sempat pulang berlibur ke kampung halaman, nah kalau sekarang saya dan jemy bisa dapat berlibur lagian nih hari libur natalan juga. Tepatnya tanggal 22 desember 2003 saya dan jemy harus segera berangkat sebab kapal yang kami tumpangi adalah salah satu kapal terakhir di bulan desember 2003. Pagi – pagi sekali saya dan jemy sempat harus berpisah, dari tadi sewaktu dirumah jemy bilang kalau dia harus pergi lebih awal ke pelabuhan sebab kapal yang nanti kami tumpangi masuknya pkl.05.00 pagi, untuk menjemput saudara sepupunya, seingat saya kalau jemy bilang tidak memiliki uang tiket dan jemy hanya berharap uang tiket titipan orang tuanya untuk dia lewat saudara sepupunya. Hari semakin siang saya dan jemy juga belum bertemu, kegelisaanpun sudah mulai terasah di hati saya, ya wajarlah kalau saya merasah gelisah sebab waktu itu kami belum memiliki telepon genggam/handphone, sehingga susah untuk komunikasi sedangkan waktu terus berjalan dan jemypun belum kunjung tiba. Suasana pelabuhan semakin ramai dipadati oleh para penumpang bahkan para pengantar, sayapun mengambil keputusan untuk mencari di atas kapal mudah – mudahan saya bisa menemukan jemy diatas kapal, namun setelah berada diatas kapal masih juga saya tidak menemukan jemy, saya berharap teman – teman dekat saya dan juga jemy untuk menanyakan keberadaan jemy namun mereka juga tidak melihat jemy. Haripun telah sore saat itu pkl.04.00 wit, saya mengambil pandangan dari samping kiri kapal yang bersebelahan dengan pelabuhan, mudah – mudahan dari atas kapal ini saya bisa melihat/menemukan jemy dari atas kapal ke arah bawa biar jelas melihat, itupun juga tidak berhasil dan waktupun telah tiba dimana kapal yang kami tumpangi akan diberangkatkan pkl.04.30 sore/wit. Saya mengambil keputusan untuk tetap berangkat walaupun tidak bersama jemy, sementara terdengar aba – aba dari kapal yang menandakan kapal siap diberangkatkan, saya bergegas jalan kearah dek 6 bagian belakang kapal atau tepatnya disamping Cafetaria dengan memesan segelas kopi susuh dimana pada waktu memesan segelas kopi susuh, saya dikagetkan dengan teman dekatnya jemy, kalau jemynya tidak jadi untuk berangkat, saat ini jemy ada di dermaga dekat dengan pos penagihan karcis, saya mendengar sayapun berlari kearah samping kapal untuk melihat jemy, begitu setibanya disamping arah kapal jemy sudah lebih dulu melihat saya, dengan melambaikan tangan dari kejahuan sepertinya menandakan bahwa ia tidak berangkat, dengan cepat saya menitipkan barang saya kebetulan ada tetangga rumah saya yang tinggalnya tidak berjauhan dari tempat tinggal saya. Saya bergegas turun dari kapal setelah tiba dibawah dengan wajah terdengar nada kesal keluar dari mulutnya nanti nyusul , tapi alasannya tidak tepat setauw saya dia sangat kesal karena tidak menemukan saudara sepupunya, sayapun mengambil keputusan untuk tidak berangkat. Jemy merasah bersalah lantaran dia sampai saya juga tidak berangkat. Kapalpun telah keluar, saya dan jemy hanya bisa duduk sambil bercanda tersenyum melihat kapal yang terus bergerak ke arah laut. Ketika saat jemy mengajak saya untuk berjalan kearah terminal dimana nantinya kami akan berangkat dengan taxi kembali ke rumah, sementara berjalan teringat saya didepan kami juga ada pelabuhan kecil atau biasanya disapa masyarakat dengan sebutan pelabuhan rakyat yang sudah menjadi tradisi di tempat tinggal kami ini. Dengan nada ketawa saya mencoba untuk ngajak jemy unyusul dengan kapal kecil yang biasa hanya melewati pulau – pulau kecil disini, jemypun tersenyum bisa saja kita berangkat dengan kapal itu ( perintis ), tapi apa tidak kita tanya tujuannya sampai dimana kalau memang juga sampai di tempat kami okey lah kita gouw..hahahaha..jemy terasa lucu. Langkah demi langkah akhirnya saya dan jemy tiba juga dikapal tersebut, hendak memasuk gerbang pertama dimana disitu ada terpampan sebuah papan yang bertuliskan tujuan keberangkatan kapal, salah satu diantara 4 pulau yang ada pulau kami juga didatangi oleh kapal tersebut…saya dan jemy berharap bisa mendapatkan tiket dengan harga yang murah, disaku celana saya hanya berkatong/modal seratus ribu rupiah saja, sedangkan jemy tidak ada uang. Saya dan jemy menuju tempat penjualan tiket diatas kapal/dek 2 tengah, bagus tiketnya untuk saya dan jemy seharga 35.000,-per orang berarti di kali dua 70.000,- wahh..sisanya 30.000 saja, gimana ya.,dengan bermodal 30.000 saja, bisa tidak membeli bekal dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan kami berdua saya bertanya dalam hati. Dengan bermodal 100.000, saya dan jemy tetap nekat untuk berangkat walau harus menahan lapar dan haus …hmmmmm…nnti dlu..nih loem slesai ceritannya capek deh…
Minggu, 29 Mei 2011
Kenangan terindah bersama sahabatku
Gara - gara uang tiket tidak cukup naik kapal putih terpaksa aku dan sahabtku ini milih naik kapal perintis aja..hahhahah..
Aduh..tanya aku kepada jemy, jemy ini hari tanggal berapa, dengan nada pelan jemy menjawab tanggal 18 waktu itu tepatnya bulan desember tahun 2003, aku balik mengingatkan jemy bahwa jemy ingat tidak tiga hari kita sudah harus berangkat, ya maklum kemarin kan liburan bulan puasa saya dan jemy tidak sempat pulang berlibur ke kampung halaman, nah kalau sekarang saya dan jemy bisa dapat berlibur lagian nih hari libur natalan juga. Tepatnya tanggal 22 desember 2003 saya dan jemy harus segera berangkat sebab kapal yang kami tumpangi adalah salah satu kapal terakhir di bulan desember 2003. Pagi – pagi sekali saya dan jemy sempat harus berpisah, dari tadi sewaktu dirumah jemy bilang kalau dia harus pergi lebih awal ke pelabuhan sebab kapal yang nanti kami tumpangi masuknya pkl.05.00 pagi, untuk menjemput saudara sepupunya, seingat saya kalau jemy bilang tidak memiliki uang tiket dan jemy hanya berharap uang tiket titipan orang tuanya untuk dia lewat saudara sepupunya. Hari semakin siang saya dan jemy juga belum bertemu, kegelisaanpun sudah mulai terasah di hati saya, ya wajarlah kalau saya merasah gelisah sebab waktu itu kami belum memiliki telepon genggam/handphone, sehingga susah untuk komunikasi sedangkan waktu terus berjalan dan jemypun belum kunjung tiba. Suasana pelabuhan semakin ramai dipadati oleh para penumpang bahkan para pengantar, sayapun mengambil keputusan untuk mencari di atas kapal mudah – mudahan saya bisa menemukan jemy diatas kapal, namun setelah berada diatas kapal masih juga saya tidak menemukan jemy, saya berharap teman – teman dekat saya dan juga jemy untuk menanyakan keberadaan jemy namun mereka juga tidak melihat jemy. Haripun telah sore saat itu pkl.04.00 wit, saya mengambil pandangan dari samping kiri kapal yang bersebelahan dengan pelabuhan, mudah – mudahan dari atas kapal ini saya bisa melihat/menemukan jemy dari atas kapal ke arah bawa biar jelas melihat, itupun juga tidak berhasil dan waktupun telah tiba dimana kapal yang kami tumpangi akan diberangkatkan pkl.04.30 sore/wit. Saya mengambil keputusan untuk tetap berangkat walaupun tidak bersama jemy, sementara terdengar aba – aba dari kapal yang menandakan kapal siap diberangkatkan, saya bergegas jalan kearah dek 6 bagian belakang kapal atau tepatnya disamping Cafetaria dengan memesan segelas kopi susuh dimana pada waktu memesan segelas kopi susuh, saya dikagetkan dengan teman dekatnya jemy, kalau jemynya tidak jadi untuk berangkat, saat ini jemy ada di dermaga dekat dengan pos penagihan karcis, saya mendengar sayapun berlari kearah samping kapal untuk melihat jemy, begitu setibanya disamping arah kapal jemy sudah lebih dulu melihat saya, dengan melambaikan tangan dari kejahuan sepertinya menandakan bahwa ia tidak berangkat, dengan cepat saya menitipkan barang saya kebetulan ada tetangga rumah saya yang tinggalnya tidak berjauhan dari tempat tinggal saya. Saya bergegas turun dari kapal setelah tiba dibawah dengan wajah terdengar nada kesal keluar dari mulutnya nanti nyusul , tapi alasannya tidak tepat setauw saya dia sangat kesal karena tidak menemukan saudara sepupunya, sayapun mengambil keputusan untuk tidak berangkat. Jemy merasah bersalah lantaran dia sampai saya juga tidak berangkat. Kapalpun telah keluar, saya dan jemy hanya bisa duduk sambil bercanda tersenyum melihat kapal yang terus bergerak ke arah laut. Ketika saat jemy mengajak saya untuk berjalan kearah terminal dimana nantinya kami akan berangkat dengan taxi kembali ke rumah, sementara berjalan teringat saya didepan kami juga ada pelabuhan kecil atau biasanya disapa masyarakat dengan sebutan pelabuhan rakyat yang sudah menjadi tradisi di tempat tinggal kami ini. Dengan nada ketawa saya mencoba untuk ngajak jemy unyusul dengan kapal kecil yang biasa hanya melewati pulau – pulau kecil disini, jemypun tersenyum bisa saja kita berangkat dengan kapal itu ( perintis ), tapi apa tidak kita tanya tujuannya sampai dimana kalau memang juga sampai di tempat kami okey lah kita gouw..hahahaha..jemy terasa lucu. Langkah demi langkah akhirnya saya dan jemy tiba juga dikapal tersebut, hendak memasuk gerbang pertama dimana disitu ada terpampan sebuah papan yang bertuliskan tujuan keberangkatan kapal, salah satu diantara 4 pulau yang ada pulau kami juga didatangi oleh kapal tersebut…saya dan jemy berharap bisa mendapatkan tiket dengan harga yang murah, disaku celana saya hanya berkatong/modal seratus ribu rupiah saja, sedangkan jemy tidak ada uang. Saya dan jemy menuju tempat penjualan tiket diatas kapal/dek 2 tengah, bagus tiketnya untuk saya dan jemy seharga 35.000,-per orang berarti di kali dua 70.000,- wahh..sisanya 30.000 saja, gimana ya.,dengan bermodal 30.000 saja, bisa tidak membeli bekal dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan kami berdua saya bertanya dalam hati. Dengan bermodal 100.000, saya dan jemy tetap nekat untuk berangkat walau harus menahan lapar dan haus …hmmmmm…nnti dlu..nih loem slesai ceritannya capek deh…
Aduh..tanya aku kepada jemy, jemy ini hari tanggal berapa, dengan nada pelan jemy menjawab tanggal 18 waktu itu tepatnya bulan desember tahun 2003, aku balik mengingatkan jemy bahwa jemy ingat tidak tiga hari kita sudah harus berangkat, ya maklum kemarin kan liburan bulan puasa saya dan jemy tidak sempat pulang berlibur ke kampung halaman, nah kalau sekarang saya dan jemy bisa dapat berlibur lagian nih hari libur natalan juga. Tepatnya tanggal 22 desember 2003 saya dan jemy harus segera berangkat sebab kapal yang kami tumpangi adalah salah satu kapal terakhir di bulan desember 2003. Pagi – pagi sekali saya dan jemy sempat harus berpisah, dari tadi sewaktu dirumah jemy bilang kalau dia harus pergi lebih awal ke pelabuhan sebab kapal yang nanti kami tumpangi masuknya pkl.05.00 pagi, untuk menjemput saudara sepupunya, seingat saya kalau jemy bilang tidak memiliki uang tiket dan jemy hanya berharap uang tiket titipan orang tuanya untuk dia lewat saudara sepupunya. Hari semakin siang saya dan jemy juga belum bertemu, kegelisaanpun sudah mulai terasah di hati saya, ya wajarlah kalau saya merasah gelisah sebab waktu itu kami belum memiliki telepon genggam/handphone, sehingga susah untuk komunikasi sedangkan waktu terus berjalan dan jemypun belum kunjung tiba. Suasana pelabuhan semakin ramai dipadati oleh para penumpang bahkan para pengantar, sayapun mengambil keputusan untuk mencari di atas kapal mudah – mudahan saya bisa menemukan jemy diatas kapal, namun setelah berada diatas kapal masih juga saya tidak menemukan jemy, saya berharap teman – teman dekat saya dan juga jemy untuk menanyakan keberadaan jemy namun mereka juga tidak melihat jemy. Haripun telah sore saat itu pkl.04.00 wit, saya mengambil pandangan dari samping kiri kapal yang bersebelahan dengan pelabuhan, mudah – mudahan dari atas kapal ini saya bisa melihat/menemukan jemy dari atas kapal ke arah bawa biar jelas melihat, itupun juga tidak berhasil dan waktupun telah tiba dimana kapal yang kami tumpangi akan diberangkatkan pkl.04.30 sore/wit. Saya mengambil keputusan untuk tetap berangkat walaupun tidak bersama jemy, sementara terdengar aba – aba dari kapal yang menandakan kapal siap diberangkatkan, saya bergegas jalan kearah dek 6 bagian belakang kapal atau tepatnya disamping Cafetaria dengan memesan segelas kopi susuh dimana pada waktu memesan segelas kopi susuh, saya dikagetkan dengan teman dekatnya jemy, kalau jemynya tidak jadi untuk berangkat, saat ini jemy ada di dermaga dekat dengan pos penagihan karcis, saya mendengar sayapun berlari kearah samping kapal untuk melihat jemy, begitu setibanya disamping arah kapal jemy sudah lebih dulu melihat saya, dengan melambaikan tangan dari kejahuan sepertinya menandakan bahwa ia tidak berangkat, dengan cepat saya menitipkan barang saya kebetulan ada tetangga rumah saya yang tinggalnya tidak berjauhan dari tempat tinggal saya. Saya bergegas turun dari kapal setelah tiba dibawah dengan wajah terdengar nada kesal keluar dari mulutnya nanti nyusul , tapi alasannya tidak tepat setauw saya dia sangat kesal karena tidak menemukan saudara sepupunya, sayapun mengambil keputusan untuk tidak berangkat. Jemy merasah bersalah lantaran dia sampai saya juga tidak berangkat. Kapalpun telah keluar, saya dan jemy hanya bisa duduk sambil bercanda tersenyum melihat kapal yang terus bergerak ke arah laut. Ketika saat jemy mengajak saya untuk berjalan kearah terminal dimana nantinya kami akan berangkat dengan taxi kembali ke rumah, sementara berjalan teringat saya didepan kami juga ada pelabuhan kecil atau biasanya disapa masyarakat dengan sebutan pelabuhan rakyat yang sudah menjadi tradisi di tempat tinggal kami ini. Dengan nada ketawa saya mencoba untuk ngajak jemy unyusul dengan kapal kecil yang biasa hanya melewati pulau – pulau kecil disini, jemypun tersenyum bisa saja kita berangkat dengan kapal itu ( perintis ), tapi apa tidak kita tanya tujuannya sampai dimana kalau memang juga sampai di tempat kami okey lah kita gouw..hahahaha..jemy terasa lucu. Langkah demi langkah akhirnya saya dan jemy tiba juga dikapal tersebut, hendak memasuk gerbang pertama dimana disitu ada terpampan sebuah papan yang bertuliskan tujuan keberangkatan kapal, salah satu diantara 4 pulau yang ada pulau kami juga didatangi oleh kapal tersebut…saya dan jemy berharap bisa mendapatkan tiket dengan harga yang murah, disaku celana saya hanya berkatong/modal seratus ribu rupiah saja, sedangkan jemy tidak ada uang. Saya dan jemy menuju tempat penjualan tiket diatas kapal/dek 2 tengah, bagus tiketnya untuk saya dan jemy seharga 35.000,-per orang berarti di kali dua 70.000,- wahh..sisanya 30.000 saja, gimana ya.,dengan bermodal 30.000 saja, bisa tidak membeli bekal dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan kami berdua saya bertanya dalam hati. Dengan bermodal 100.000, saya dan jemy tetap nekat untuk berangkat walau harus menahan lapar dan haus …hmmmmm…nnti dlu..nih loem slesai ceritannya capek deh…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar